Loading...

Setelah Menjalankan Beberapa Tahap Perjuangan Kini Bisa Kembali Ke Rumah - Perjalanan Riski Pessien Yang Singgah Di Shelter Sehati

Image

Posted By : Rahayu Saputro

Date : 14 June 2023

Riski Fernando (30) asal Way Jepara, Lampung Timur, salah satu pasien yang singgah di Shelter Sehati LPM Dompet Dhuafa.

Di tahun 2019, kecelakaan kerja menjadi kerjadian awal dari sebuah perjuangan yang akan dilewati. Benturan dan terjatuh dengan sangat kuat membuat Riski mengalami luka robekan di area paha, patah tulang pinggul dan paha sebelah kanan, serta mengalami pecah di kantung kemih. Riski mendapatkan penanganan di rumah sakit daerah, naasnya keadaan memburuk dan mengalami infeksi dibagian pada dan kantong kemih.

 

Setelah menjalankan beberapa proses pengobatan di daerah, perjuangan sembuh ternyata masih harus dijalankan hingga ke Jakarta. Riski mendapatkan penanganan di rumah sakit rujukan nasional yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Nasional, Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Riski ditemani istri menjalankan beberapa operasi diantaranya pasang pan kaki, operasi tambal kulit untuk menutupi bagian yang bolong, serta pasang pan di pinggul. Lalu keadaan pandemi covid-19 Riski dan istri kembali ke Lampung dan menjalankan berobat jalan.

 

 

 


Masa awal menjalankan proses pengobatan di Jakarta, Riski Bersama istri mengontrak selama 10 bulan di ruangan yang petak. Ditambah dengan kondisi kontrakan yang menurun dan menyulitkan kondisi Riski untuk menuju rumah sakit.

 

Menjalankan pengobatan di Jakarta, Riski harus berjuang dengan keadaan ekonomi. Penanganan yang besar membuat Riski dan istri menanggung biaya pengobatan yang besar pula. Perusahaan hanya bisa membantu sesuai ketentuan, selebihnya Riski dan istri harus berjuang mencari biaya tambahannya. “Keadaan ekonomi saya pas-pasan, sebelum berangkat kesini saya pinjem koperasi, 2 motor saya jual, warung saya abis, semuanya habis, pokonya habis-habislah untuk saya berobat disini. Belum lagi saya memikirkan anak saya disana.” tuturnya.

 

22 Januari 2022, Riski kembali berobat ke RSCM untuk menangai kaki yang masih infeksi dan dilakukan operasi serta pemasangan pan Ilizarof. Setelah operasi selesai, Riski dan istri harus mencari tempat tinggal untuk bersinggah. Kondisi Rizki yang dialami tidak memungkinkan untuk kembali ke kontrakan yang awal. Memaksa Istri Riski mencari tempat tinggal atau rumah singgah yang memadai keadaanya. Seletah kesana-kemari mencari informasi, Riski beserta istri dipertemukan dengan Shelter Sehati Dompet Dhuafa.

 

 

 

 

 

Bahagia sangat dirasakan oleh Riski karena bisa dibantu singgah di Shelter Sehati LPM Dompet Dhuafa. Selain bantuan tempat tinggal, Riski merasakan banyak manfaat seperti disediakannya makanan, tempat tidur yang sesuai kebutuhan, dan layanan akomodasi dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa untuk kontrol ke rumah sakit.

Riski sangat berterima kasih untuk seluruh orang yang selama ini membantunya dalam proses pengobatan, teman-teman, pendamping dan relawan dari Dompet Dhuafa, dan yang paling utama untuk istri terncinta. Dia sangat bersyukur memiliki istri yang sangat sabar menemani seluruh proses yang dijalankan.

 


Eriawati (33) sebagai istri Riski mengungkapkan bagaimana menjalankan peran merawat suaminya yang sakit itu adalah sebagai kewajiban. “Saya berusaha menyemangati terus, jangan sampai lelah, menemani disaat dia butuh. Semua aktivitasnya yang dilakukan di tempat tidur dan saya yang membantunya memandikannya, memberinya makan, hingga membersihkan ketika buang air. InsyaAllah ada titik bagusnya dikemudian hari” tuturnya.

 

 

Selama setahun lebih Riski dan istri singgah di Shelter Sehati banyak moment dilewati Bersama para pengurus, pendamping, serta pasien lainnya. Nilai kekeluargaan dan penguatan psikis serta rohani juga menjadi hal yang disukuri di dapatkan di tempat ini.

 

“Hancur rasanya ketika moment spesial Ramadan dan lebaran, yang harusnya bisa berkumpul bersama keluarga tetapi harus berjuang disini. Namun tak terbayang lagi jika menjalankan di kontrakan sendiri, bisa nangis tujuh hari tujuh malem. Alhamdulillahnya di sini kita bisa berkaca, bahwa ada kawan-kawan kita yang sedang berjuang. Dari kawan yang ada disini, kita sharing, bertukar pikiran, bersenda gurau, menjadi keluarga semua disini. Kita bisa berkaca, oh bahawa ada yang lebih parah dari saya, menjadi tolak ukur bersyukur. Yang penting satulah sabar, orang itu kuat, masa saya engga, sama-sama berjuang disini.” Tuturnya.

 

Saat sebelum kontrol terakhir melihat kondisi Riski, dokter memberi syarat, jika luka yang terbuka sudah tertutup, Riski bisa pulang ke Lampung. Dengan optimis dan pengobatan rutin, setelah satu bulan kondisi luka membaik sudah tertutup. Setelah dicek, alhamdulillah dokter menyatakan kondisinya bagus dan bisa pulang ke Lampung. Perasaan senang yang besar didapatkan oleh Riski dan istri, setelah perjuangan selama setahun di Jakarta akhirnya bisa kembali ke rumah bertemu buah hati tercinta dan keluarga.

 

 

 



Riski berpesan kepada teman-teman yang singgah di shelter sehati, tetap semangat jangan berputus asa. “Kita diuji ini mungkin karena Allah sayang sama kita, karena Allah ingin mengingatkan kita. Terutama pendamping juga harus semangat mendampingi, saya bersyukur dengan istri saya yang selalu kuat. Semangat selalu, jika down beristighfar, berdzikiri, doa dan sholawat nabi.” tuturnya

Bagi Rizki, musibah ini adalah ujian dan teguran yang diberikan oleh Allah untuk menyadarkannya. Dia sadar kalau selama ini selau menuhankan pekerjaan, segala waktu dan tenanga dilakukan hanya untuk pekerjaan hingga jauh dari Allah. Setelah melewati ujian ini, dia sadar kalau hanya Allah yang dapat membantunya dalam segala hal, termasuk kesembuhan. (LPM/Ray)


-
-
332

Komentar