Tahu Bahayanya, Tapi Tetap Melakukannya: Mengapa Edukasi Sampah Saja Tidak Cukup
Posted By : Afriza
Date : 23 April 2026
Awal bulan April, terlapor ada tiga pria tertangkap basah membuang sampah sembarangan di wilayah Jalan AMD Lintas Timur, Desa Kabayan, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang.
Mereka terancam denda sanksi sebesar 200 juta rupiah karena melanggar peraturan. Berdasarkan pengakuan tiga orang tersebut, sampah-sampah berasal dari wilayah Jakarta dan Tangerang.
“Melanggar Perda No 4 tahun 2008 tentang K3 (kebersihan, keindahan, dan ketertiban) terancam sanksi Rp 200 juta," kata Kepala Seksi Operasi dan Pengendalian Massa Satpol-PP Pandeglang, Ucu Sukarya, dalam keterangannya, Minggu (05/04/2026) sebagaimana diberitakan oleh Detik.
Kenyataan di atas merupakan tamparan keras terhadap dunia: membuang sampah sembarangan dan terancam denda ratusan juta.
Di sisi lain, sudah tidak terhitung pihak yang mengedukasi bahaya sampah dan mengajak untuk gaya hidup pro-lingkungan.
Siklus ini seolah seperti kisah Tom dan Jerry: edukasi sudah dilaksanakan namun masih belum bisa menangkap (menyelesaikan) masalah yang berada di lapangan.
Informasi bahaya sampah dan solusinya sudah mudah diakses, tetapi kenyataan di lapangan masih marak pelaku anti-lingkungan.
Semua Bermula dari Buang Sampah Sembarang
Jika seseorang bijak dalam gaya hidupnya, maka tidak ada sisa/residu dari barang yang ia konsumsi. Kalaupun ada, maka ia harus mengolahnya atau setidaknya mendaur ulang menjadi barang layak pakai.
Dengan demikian, tidak ada yang berpikir untuk membuang sampah ke tempat yang tidak semestinya.
Sebuah survei yang dilakukan oleh peneliti Desi Natalia Marpaung, Yudha Nur Iriyanti dan Diansanto Prayoga dari Universitas Airlangga menemukan perilaku membuang sampah sembarangan pada masyarakat dipengaruhi oleh karena sarana dan prasarana yang tidak tersedia.
Sarana dan prasarana dimaksud bisa beragam: bisa berupa tempat pembuangan sampah (TPS 3R); atau teknologi pengolahan lanjut untuk menghasilkan energi yang berguna seperti Refuse Derived Fuel (RDF) dan sejenisnya. Kata kuncinya adalah ketersediaan sarana dan prasarana.
Dalam sebuah survei berbeda yang dilakukan oleh Bangbang Syamsudar, Agus Santosa, Nancy Trisari Schiff dan Ridhan M dari STIKIP Pasundan mencatat tumpukan sampah kecil atau perilaku buang sampah sembarangan yang dilakukan segelintir pihak, akan memicu pelanggaran serupa oleh pihak lain.
Artinya jika ada satu orang buang sampah sembarangan, maka akan ada satu orang yang terpengaruh untuk melakukan hal serupa. Kata kuncinya adalah lokasi.
Penelitian lain yang dilakukan oleh P. Wesley Schultz, Renée J. Bator, Lori Brown Large, Coral M. Bruni, and Jennifer J. Tabanico mencatat niat disengaja seperti sengaja menjatuhkan, sengaja melempar atau sengaja buang sebagian sampah, merupakan alasan kuat pertama atas perilaku membuang sampah sembarangan.
Alasan kedua karena faktor lingkungan seperti jarak ke tempat sampah yang jauh. Kata kuncinya adalah niat (psikis) dan jarak.
Pada kesempatan yang berbeda, penelitian yang dilakukan oleh Yasuhiro Mori, Tomoko Nakamata, Risa Kuwayama, Shintaro Yuki dan Susumu Ohnuma mencatat bahwa individu yang memiliki niat untuk tidak membuang sampah sembarangan mungkin masih menunjukkan kemauan untuk mentolerir perilaku membuang sampah sembarangan dan berpartisipasi dalam perilaku membuang sampah sembarangan itu sendiri.
Terutama dalam situasi di mana terdapat vegetasi lebat, tidak adanya tempat sampah di dekatnya, atau di mana perilaku membuang sampah sembarangan tidak mendapat kecaman dari lingkungan sekitar. Kata kuncinya adalah situasi.
Terakhir, salah seorang psikolog menyebut gejala-gejala ini sebagai dragons of inaction, yang berarti naga-naga yang enggan bertindak.
Konsep ini menyoroti minimnya pemahaman tentang isu permasalahan tersebut, ideologi yang membatas, ketidakpercayaan terhadap ahli dan otoritas, dan perubahan perilaku positif yang tidak memadai.
Secara garis besar dragons of inaction, menyoroti banyaknya masalah yang menghalangi orang untuk mencintai lingkungan meski sudah mengetahui bahayanya yang terjadi jika abai terhadap lingkungan. Masalah-masalah tersebut kurang lebih seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Akan tetapi “naga-naga” itu bukan tidak bisa ditaklukan atau tidak bisa dikalahkan. Itu sangat bisa jika masing-masing masalah diselesaikan atau diberi solusi.
Jangan hanya satu masalah yang diselesaikan, sedangkan masalah yang lainnya tidak. Karena nanti mata rantai itu tidak akan pernah putus.
Perubahan Kecil, Bertahap dan Konsisten
Tentu dibutuhkan waktu dan biaya yang panjang serta besar untuk menyelesaikan masing-masing masalah itu. Kuncinya adalah kolaborasi yang komprehensif dengan melibatkan berbagai sektor dan pihak.
Bahwa perubahan bisa terjadi jika dilakukan bersama-sama. Baik yang dilakukan oleh orang dewasa atau muda, baik yang dilakukan oleh pria dan wanita. Mari mulai dari ruang lingkup terkecil di masyarakat.
Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa menggencarkan program Mother Earth: Dari Ibu untuk Bumi. Program tersebut merupakan perpanjangan dari Pemberdayaan Majelis Taklim Ummahat (PMTU).
LPM menilik peran perempuan di ruang domestik untuk menjadi penggerak perubahan dan pionir aktivisme peduli lingkungan. Mulai dari edukasi, investasi, hingga asistensi.
Di sisi edukasi, LPM memberi edukasi untuk bijak dalam konsumsi. Misal menghindari kemasan plastik, membeli konsumsi secukupnya sehingga tidak ada sisa makanan berlebihan, dan tidak menciptakan tumpukan sampah.
Kemudian LPM akan memberi investasi berupa pelatihan dan pemberian moda produksi guna menunjang gaya hidup pro-lingkungan yang juga memiliki nilai ekonomis.
Terakhir LPM akan melakukan pendampingan intensif atau asistensi bahwa semangat peduli lingkungan tetap terjaga dari hulu hingga ke hilir.
Harapan dan Kenyataan
Pada akhirnya, kita bukan kekurangan informasi. Melainkan partisipasi aktif untuk menjadi pengawas sekaligus inventor perubahan pro-lingkungan.
Perubahan tidak terjadi semalam, namun itu bisa dimulai dari hal kecil yang awam. Terutama mulai memutus dari hal yang sepele: membuang/mengolah sampah sesuai tempat dan fungsinya.
Jika satu orang bisa memulai dengan tidak membuang sampah sembarangan, maka satu lingkungan bisa ikut berubah.
Perubahan ini bukan lagi sekadar harapan melainkan sebuah kenyataan yang akan datang di depan mata. (Arifian Fajar Putera/ DMC Dompet Dhuafa)
Komentar
Pencarian
-
Tahu Bahayanya, Tapi Tetap Melakukannya: Mengapa Edukasi Sampah Saja Tidak Cukup
-
Dompet Dhuafa USA menyalurkan Eid Gift For Orphans di Jabodetabek
-
ID Humanity Dompet Dhuafa dan Chubb Life Indonesia Ajak Anak-Anak dan UMKM Meriahkan Bulan Ramadan
-
LPM Dompet Dhuafa Jalin Silaturahmi bersama Mustahik dalam Momentum Ramadan
-
Sekotak Kebahagiaan Kado Yatim di Bulan Ramadan yang Penuh Kemuliaan
-
RS UI dan LPM Dompet Dhuafa Hadirkan Keceriaan Ramadhan untuk Pejuang Sehat Talasemia
-
Ramadhan Inklusif: LPM Dompet Dhuafa Buka Ruang bagi Disabilitas Mental untuk Bersinar
-
Grebek Kampung Dompet Dhuafa: Bawa Berkah Ramadan ke Sudut Padat Jakarta
-
Memaknai Bulan Suci Ramadhan: PT Surveyor Indonesia dan LPM Dompet Dhuafa Santuni 100 Dhuafa
-
MC.ID dan LPM Dompet Dhuafa Hadirkan Pesantren Kilat Ramadhan untuk Hibur Pejuang Sehat di Shelter Sehati